MEUGAP COMMUNITY

We Are Freediver

Profil Komunitas

Meugap Community adalah sebuah komunitas freedive Aceh yang terbentuk pada November 2015 oleh Emrin Ian, Nova Hendryansyah Putra, dan Willy ardiansyah. Beranggotakan lebih dari 20 orang dan diketuai oleh Emrin Ian.
Meugapers sebutan bagi anggota Meugap Community ini memiliki latar belakang yang beragam, mulai dari karyawan BUMN, Guru, Pegawai Kementrian, Karyawan swasta, Anggota Kepolisian, Penyiar, Enterpreneur hingga Mahasiswa aktif di perguruan tinggi.

  • Jeulingke, Banda Aceh, Indonesia.
  • +62852 71133929
  • meugapcommunity@gmail.com
  • www.meugapers.my.id
Me

Anggota Komunitas

Sebagian anggota sudah mendapatkan sertifikat AIDA Freediver melalui program bantuan pemerintah daerah pada tahun 2018.
Sejak tahun 2019 banyak rekan-rekan spearo khususnya tim Smoker Spearfishing yang bergabung dan bekerjasama dengan Meugap, Sehingga terjadi hubungan timbal balik dalam kegiatan sharing ilmu dan wawasan, serta saling mendukung dalam kegiatan sosial.

Freediver Bersertifikat 45%
Spearo 70%
Atlit 0%
Instruktur 0%

Marine Debris Cleanup

Peduli dan aktif dalam menangani isu sampah terutama yang mencemari pantai dan laut
Video kegiatan cek disini

Spearfishing For Charity

Melakukan spearfishing dan hasilnya dinikmati bersama santri pondok pesantren yatim.
Menjual hasil tangkapan dan dananya disumbangkan ke daerah yang terkena bencana
Video kegiatan cek disini

Coaching And Sharing

Diskusi, saling berbagi ilmu dan pengalaman freedive dan spearfishing antar anggota, antar komunitas, dan masyarakat luas
Video kegiatan cek disini

Social Activity

Terlibat dalam kegiatan distribusi beras bantuan untuk pesantren dan panti asuhan pada program Gerakan Infaq Beras (GIB) yang diinisiasi oleh Paskas Aceh (Pasukan Amal Shaleh)
Video kegiatan cek disini

Business Opportunity

Membuka peluang usaha antar sesama anggota komunitas, lintas komunitas, dan diluar komunitas
Gallery Lapak cek disini

Freediving Event

Ambil bagian dalam menyukseskan acara Sabang International Freediving Competition sebagai Safety Diver.
Video kegiatan cek disini

0
completed project
0
youtube subscriber
0
instagram followers
0
current projects
  • Konflik Dan Peraturan Tak Tertulis Antara Pemancing Dan Spearo


    Seorang teman pemancing menghubungi penulis (sebagai admin meugap community) dan mengadukan kejadian yang mereka alami. Mereka punya sedikit masalah dengan teman-teman spearo yang menyelam malam di lokasi yang biasa mereka gunakan untuk memancing. Mereka tidak tahu harus mengadu kemana untuk mendapatkan solusi dan pencerahan dari masalah ini. Mereka berharap admin bisa menyampaikan hal ini ke group spearo sehingga bisa saling memahami dan tidak berakhir dengan hal-hal yang tidak diinginkan. Pemancing itu mengatakan bahwa kejadian ini mereka alami di Kampung Biduk, Lampulo dan Tanggul Pantai Syiah Kuala.

    Pada dasarnya pemancing dan spearo sama-sama mencari rejeki laut untuk memenuhi kebutuhan hidup. Biasanya mereka melakukan aktifitasnya di tempat yang sama sehingga wajar kalo terjadi benturan kepentingan (berebut lapak). Dalam hal ini tidak ada pihak yang pantas dan merasa lebih berhak atas lokasi tertentu. Siapa yang duluan sampai, itulah kesempatan baginya dan yang datang belakangan harus rela untuk mencari tempat yang lain. Namun apabila suatu tempat itu telah terkenal sebagai spot pemancing, maka hendaknya spearo tidak menggangu lokasi tersebut. Namun apabila dilokasi telah didahului oleh spearo, hendaknya pemancing mengalah atau membicarakannya dengan spearo secara baik-baik apabila tetap ingin memancing di lokasi yang sama. Dan Seperti yang kita ketahui bersama, kekerasan seperti melempar batu atau memotong tali pancing tidak akan menyelesaikan masalah, malah menambah masalah. Kenapa saya tulis demikian? karena sudah banyak kejadian spearo yang dilempari batu oleh pemancing atau spearo yang "nakal" memotong senar pancing. Rezeki sudah ada yang atur, jadi tidak perlu rebutan lapak!!!

    Seperti pengalaman yang pernah penulis alami bersama teman-teman spearo di Lhok Nga Aceh Besar (PT. Sai, tempat yang sudah terkenal sebagai lokasi mancing), begitu menyadari di lokasi sudah ada beberapa pemancing, kami memutuskan untuk pindah ketempat yang jauh dari pemancing. Sebagai bentuk etika yang baik, kami ucapkan permisi “izin lewat” supaya kami bisa berenang menjauh dari lokasi pemancing tersebut. Dan alhamdulillah apa yang kami lakukan membuat pemancing mengerti dan sama-sama bisa melanjutkan mencari rezeki.

    Pengalaman diatas merupakan contoh kasus yang sering terjadi diantara pemancing dan spearo. Konflik atau benturan seyogyanya dapat dihindari dengan mengedepankan toleransi sebagai wujud dari peraturan tak tertulis yang hendaknya dipatuhi oleh semua pihak.




    Tulisan ini adalah hasil diskusi dengan Bang Emrin Ian dan beberapa teman lainnya.

    NOTE :
    Berdasarkan laporan yang kami terima, konflik terjadi di Tanggul Syiah Kuala, Lampulo, Dan Tanggul Ulee Lheue.
    Foto yang kami upload hanya pemanis. bukan tempat terjadinya konflik.

  • Spearophobia (part 2)

     

    Tulisan ini juga kami publish di : https://steemit.com/spearfishing/@amirdayyan/spearophobia-part-2

    Awalnya saya kebingungan ketika memikirkan “alasan pelarangan menyalam” di beberapa lokasi, seperti yang pernah saya tuliskan di postingan sebelumnya yang berjudul Spearophobia (Part 1). Alhamdulillah di Part 2 ini saya mulai menemukan jawaban dari kegalauan para separo selama ini tentang pelarangan tersebut. Jawaban itu baru saya dapatkan beberapa hari yang lalu setelah berdiskusi dengan seorang warga senior dari salah satu desa di pesisir Aceh Besar.

    Menurut yang saya dapatkan dari beliau, pelarangan terjadi karena kesalahan beberapa spearo yang tidak beretika. Diantara spearo, ada yang datang ke kampung pesisir dan bersikap tidak sopan terhadap warga, ada juga spearo yang dilaporkan kedapatan merusak karang ketika menangkap gurita (merusak rumah gurita), ada spearo yang suka menipu dan tidak membayar barang dagangan warga setempat, bahkan saya mendapat info ada spearo yang “membantu” menjual gurita tapi setelah gurita laku, uangnya tidak diserahkan kepada pemilik gurita, dan yang terakhir yang saya dengar ada spearo yang membuat status di social media yang menyinggung warga setempat. Beberapa hal itu membuat warga tidak senang dan melaporkan kepada “Panglima Laot” agar dipasangkan tulisan pelarangan untuk menyelam.


     

    Lewat tulisan ini, kita berharap bisa menemukan jalan keluar, salah satu solusi yang bisa saya sarankan adalah meminta maaf bagi yang melakukan kesalahan, dan apabila memang tidak bisa dimaafkan, mungkin bisa blacklist personal. Misalnya tidak senang dengan si R karena masalah yang dia perbuat seperti hutang tak dibayar atau merusak sarang gurita, suruh dia untuk selesaikan masalahnya dengan membayar hutangnya, dan berjanji tidak merusak sarang gurita lagi, sehingga dia bisa diizinkan kembali menyelam dilokasi. Begitu juga bagi yang pernah mengupdate status candaan di sosial media tentang suatu spot, yang status itu kira-kira bisa membuat warga tersinggung. Misalnya status seperti ini “kapan kita jajah lagi daerah itu?”, status seperti ini akan membuat warga “daerah itu” tersinggung saat mereka membacanya. Maka segeralah meminta maaf!

    Yang sudah berlalu marilah kita selesaikan dengan cara baik-baik. komunikasikan baik baik. Bagi warga pesisir saya berharap agar menerima permintaan maaf jika ada yang meminta maaf. Tapi kalo masi ada hutang, tagih dulu hutangnya! hehehe. iya kan R? BAYAR HUTANGMU!!!

    Sebagian lokasi pesisir aceh besar menghadap ke arah barat dan sebagian lagi menghadap ke timur dan utara. Misalkan desa A menghadap Barat dan desa B menghadap timur, biasanya spearo akan menyelam di Spot B saat angit barat dan menyelam di spot A saat angin timur. Jangan sampai karena pelarangan di spot A, warga spot A nantinya akan dilarang di desa B ataupun desa lainnya. Parahnya lagi, jika pelarangan spearfishing dianggap menghalangi mencari rezeki spearo, ditakutkan warga desa yang melarang spearfishing akan dilarang untuk mencari rezeki ditempat lain. Semoga manusia gak segila itu. Kita bisa lebih baik.

    Kalopun aktifitas spearfishing dilarang, umumkan alasan pelarangannya, dan pastikan larangan itu berlaku untuk semua orang tanpa kecuali!

    Semoga tulisan ini menjadi solusi terhadap permasalahan yang ada dan jika ada kata saya yang salah, mohon dikoreksi dan diperbanyak maaf. Akhir kata saya ucapkan Salam satu nafas, semoga selalu dalam lindungan Allah.


     

  • Spearophobia (part 1)


    Tulisan ini pernah kami publish di : https://steemit.com/hive-193562/@amirdayyan/spearophobia

    “Ketika Laut Mulai Dipagari Langkah Pencari Rezeki Mulai Terbatasi”Spearophobia adalah kata yang saya gabungkan dari kata Spearo dan Fobia, kata yang saya gunakan untuk menyebutkan seseorang atau kelompok yang memiliki ketakutan yang tidak jelas dan tak berdasar terhadap teman-teman spearo. Spearo sendiri merupakan sebutan untuk seseorang yang melakukan spearfishing (Menangkap ikan menggunakan tombak/spear), sedangkan Fobia adalah ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya.Banyak tempat di Pesisir Aceh Besar (Lamreh, Lhok Seudu, Baru-baru ini di Lampuuk juga) melarang melakukan kegiatan spearfishing. Alasannya belum kami ketahui dan kami akan mencari tau ke aparat desa setempat saat ada kesempatan. Dugaan sepihak dari teman-teman spearo adalah karena adanya kecemburuan sosial karena melihat hasil tangkapan spearo lebih banyak dari teman-teman yang memancing disana. Padahal dalam hal ini sudah ada aturan tak tertulis yang berlaku bagi spearo dan pencari ikan lainnya di pesisir, seperti yang pernah kami tuliskan disini. Kalopun ada yang melanggar, harusnya jangan digeneralisir. Larang aja orang yang melakukan pelanggaran itu. Dan sepengetahuan penulis, (kita asumsikan semua orang patuh terhadap aturan) spearfishing adalah metode tangkap ikan yang paling ramah lingkungan karena paling sedikit meninggalkan jejak berupa sampah di lautan. Kalo kita menyelam di spot pemancingan, kita akan menemukan sampah kail dan tali pancing yang tersangkut di karang, dan di kegiatan spearfishing tidak menghasilkan sampah seperti itu.


    “Sepearfishing Zero Bycatch” juga menjadi alasan kenapa spearfishing dikatakan sebagai metode tangkap ikan yang paling ramah lingkungan. Bycatch sendiri artinya tangkapan sampingan atau “tangkapan tidak sengaja”, seperti hiu, anak paus, atau satwa lain yang tertangkap secara tidak sengaja oleh metode tangkap menjaring. atau hiu yang terpancing kail, bahkan satwa-satwa yang terjebak sampah jaring/tali pancing yang tersangkut di karang laut.Karenanya, sangat tidak masuk akal jika masi dilakukan pelarangan terhadap spearfishing di laut-laut yang bukan area konservasi/tempat wisata snorkling. Parahnya lagi kalo pelarangan itu hanya diperuntukkan orang-orang luar daerah itu, dan aktifitas tetap diperbolehkan untuk warga kampung setempat, maka itu bukanlah keputusan yang bijak. Berlaku adillah!!! Semoga kita menjadi lebih baik lagi.



     

  • GET YOUR GEAR NOW!

    Segera miliki perlengkapan selam anda di toko kami.