Profil Meugap Community

 

    Meugap Community adalah sebuah komunitas freedriver Aceh yang terbentuk pada November 2015 oleh Emrin Ian, Nova Hendryansyah Putra, dan Willy ardiansyah. Beranggotakan lebih dari 20 orang dan diketuai oleh Emrin Ian. Meugapers, sebutan bagi anggota Meugap Community ini memiliki latar belakang yang beragam, mulai dari karyawan BUMN, Guru, Pegawai Kementrian, Karyawan swasta, Anggota Kepolisian, Penyiar, Enterpreneur hingga Mahasiswa aktif di perguruan tinggi. 


    Sebenarnya, nama meugap telah digunakan oleh Emrin dan teman-temannya untuk kelompoknya yang hobi berenang di kolam Tirta Raya. Sebelum menggunakan nama Meugap, sempat berpikir untuk menggunakan nama Aceh freediving, namun nama ini terlalu tinggi rasanya untuk kami gunakan pada saat itu, dimana belum satupun diantara kami yang memiliki license Freedive resmi. Akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan kata Meugap sebagai nama komunitas karena terdengar lebih merendah dibandingkan kata Aceh Freediving. Kata ini juga memiliki filosifi yang sangat sesuai dengan apa yang kamii rasakan baik dalam proses belajar (latihan freedive) maupun proses pembelian peralatan yang harganya lumayan besar bagi sebagian anggota. Kata Meugap secara harafiah bisa berarti kehabisan nafas atau sulit bernafas namun secara istilah bisa berarti setengah mati atau kesusahan dalam sesuatu hal.


    Berdirinya komunitas ini berdasarkan dari kesamaan hobi  para anggotanya serta keprihatinan dan kepedulian terhadap lingkungan, bahwa kelestarian alam membutuhkan orang-orang yang sadar akan keberlangsungan ekosistemnya. Sementara, kemajuan zaman banyak menunjukkan gejala yang mengarah pada kerusakan alam. Sampah, karbon, kebakaran hutan, pemanasan global, rusaknya terumbu karang, eksploitasi sumber daya laut yang berlebihan, penggunaan bahan-bahan kimia dan ketidakstabilan iklim, tidak hanya diartikan sebagai bencana alam. Tapi ini merupakan salah satu cermin bahwa tidak adanya tindakan manusia yang berlandaskan iman. Disisi lain, banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjaga alam tidak hanya harus digerakkan dari pihak luar, bahwa manusia memiliki kesadarannya masing-masing dalam menjaga kelestarian alam. Kendalanya ada pada kemauan. Dari beberapa masalah ini, Meugap Community mencoba meretas permasalahan kemampuan menjaga dan meningkatkan potensi pariwisata daerah. Selain menjadi sebuah hobi, melalui olahraga freediving ini kami mencoba menjadi komunitas penggerak kebersihan lingkungan serta kelestarian alam bawah laut.

    Dalam memenuhi kebutuhan membeli alat perlengkapan freedive, julo-julo menjadi salah satu cara bagi kami, sementara untuk materi latihan kami dapatkan dari youtube dan artikel-artikel di google. Kami berusaha dengan cara seperti itu karena biaya sertifikasi yang terasa sangat tinggi bagi sebagian besar kami. Perihal ini memaksa kami untuk menjadi lebih kreatif dalam mencari informasi dan metode latihan yang aman di Google, tanpa pengawasan pelatih atau instruktur. 

    Setiap akhir pekan, para meugapers selalu mempunyai agenda rutin mengexplore keindahan bawah laut untuk kepentingan latihan, mengambil video, membersihkan sampah dilaut dan mengidentifikasi biota bawah laut khusunya Anemon dan Ikan Anemon. Tempat yang paling sering dikunjungi adalah wilayah Aceh Besar, mulai dari Lampu’uk Inong Bale, Pasir Putih, Pulau Tuan, Lhok Seudu, Pulau Amat Ramanyang, Blam Ulam dan Lhok Mata Ie. Selain itu, Meugap Community juga telah mengeksplore sebagian bawah laut Kota Sabang.
    Tahun 2018 beberapa anggota Meugap Community mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan atau sertifikasi freedive yang diselenggarakan oleh dinas pariwisata Aceh. Bermula dari pelatihan itu, orientasi dari komunitas mulai terfokus ke arah yang lebih serius di bidang freediving seperti terlibat langsung dalam beberapa kegiatan bertaraf internasional, Sabang International Freediving Competition 2018 dan Sabang International Freediving Competition 2019.




Posting Komentar untuk "Profil Meugap Community"